INFO SEPUTAR COVID19

COVID-19: TIDAK PERLU PANIK, TAPI TETAP WASPADA

Per tanggal 29 Maret 2020, kasus corona di Indonesia bertambah menjadi sebanyak 1.285 kasus.

 "Total kasus menjadi 1.285," kata juru bicara pemerintah terkait penanganan wabah Corona Achmad Yurianto dalam konferensi pers yang ditayangkan di saluran YouTube Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (29/3/2020). 

 

Masyarakat memang tidak perlu khawatir, tapi tetap harus waspada terhadap penyebaran virus baru ini. Masyarakat perlu mengetahui gejala, penyebaran, dan penanganan yang tepat mengenai virus ini.

 

ASAL MUASAL CORONA

Sebelum kita memasuki asal muasal corona, kita berkenalan dulu dengan dua pendahulunya, yakni MERS dan SARS.

SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pertama kali ditemukan di Guandong, China pada 2002 silam. Gejala SARS sendiri adalah demam tinggi lebih dari 38 derajat Celcius, sakit kepala, gangguan pernapasan, dan sekujur tubuh terasa sakit. Virus SARS diduga berasal dari kotoran kelelawar yang terkena kontak dengan manusia. SARS sendiri membutuhkan waktu selama 8 bulan untuk dapat menyebar ke pasien lain. 

MERS (Middle East Respiratory Syndrome) atau sindrom pernapasan timur tengah terjadi pada 2012 silam di Arab Saudi. MERS kemungkinan berasal dari unta dromedaris yang terkena kontak langsung kotoran kelelawar sebelum ditularkan kepada manusia. 

Struktur virus corona baru (COVID-19) hampir serupa dengan SARS. Corona pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019. Berdasarkan analisis genetika, virus corona belum mengalami perubahan signifikan sejak pertama kali ditemukan di Wuhan.

 “Ini (corona) pada dasarnya adalah evolusi Darwin, tempat ia bertahan dari yang terkuat. Tetapi jika Anda sudah terinfeksi corona dengan penularan dari manusia ke manusia, maka kondisi Anda justru akan semakin drop,” ujar Timothy Sheahan, ahli epidemologi dari Gillings School of Global Public Health, University of North Carolina. 

Jika rata-rata sebanyak 35 persen pasien yang mengidap MERS meninggal dunia, COVID-19 jauh lebih sedikit, yakni hanya sebesar 2,07 persen. Namun jumlah korban meninggal akibat virus corona sejauh ini menjadi yang tertinggi. 

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus pada awal Maret lalu mengatakan 3,4 persen dari kasus yang dilaporkan meninggal, namun jumlahnya kemungkinan berubah lantaran wabah masih berkembang.

 

SEPERTI APA GEJALANYA?

Hampir sama seperti virus pada umumnya menyerang tubuh manusia, tubuh manusia akan terasa lelah, pegal, demam, dan sakit kepala. Sedangkan virus yang secara spesifik menyerang saluran pernapasan ditandai dengan flu, batuk, pilek, hingga sesak napas. 

Namun saat SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome coronavirus 2) masuk ke dalam tubuh manusia, reaksi yang ditimbulkan beragam. Tergantung dari sistem imun tubuh manusia itu sendiri. Manusia dengan daya tahan tubuh rendah, akan mengalami gejala yang cukup berat saat virus corona menyerang. Sebaliknya, manusia dengan daya tahan tubuh atau sistem imun  yang bagus, hanya akan mengalami gejala ringan atau bahkan tanpa gejala bahkan saat virus corona memasuki tubuhnya. 

 

BAGAIMANA BISA TERSEBAR?

Lisa Lockerd Maragakis, M.D., M.P.H. pada tulisannya yang berjudul Coronavirus Disease 2019 vs the Flu mengatakan baik flu maupun COVID-19 memiliki siklus penyebaran yang sama, yakni melalui tetesan atau percikan (droplet) air liur melalui udara dari orang yang batuk, bersin, atau berbicara. Namun bedanya, SARS-CoV-2 ini menyebar dari orang ke orang. Seseorang dapat langsung terkena virus bahkan dari sentuhan terhadap permukaan objek yang sudah terkena virus, kemudian menyentuh hidung, mulut, atau mata. 

 

BAGAIMANA CARA PENANGANAN YANG TEPAT?

Hingga saat ini memang belum ditemukan obat atau vaksin yang dapat mematikan virus corona. Namun, kita tetap dapat melakukan hal-hal kecil yang dampaknya bisa meminimalisir penyebaran virus corona.

  1. MENCUCI TANGAN DENGAN MENGGUNAKAN SABUN DI BAWAH AIR MENGALIR. Dengan durasi minimal 20 detik. Langkah ini merupakan langkah yang paling murah, mudah, dan efektif dalam membunuh virus apapun. Terutama setelah memegang benda yang terbuat dari logam (virus cepat dan banyak menempel pada logam). Perlu diketahui bahwa tubuh virus corona terdiri dari badan dan di luar badan tersebut (kulit) terdapat mahkota yang berbentuk seperti jarum yang mengandung zat-zat yang cepat bertumbuh kembali dan mematikan manusia. Jika kita mencuci tangan menggunakan sabun, zat yang terdapat dalam sabun dapat mengurai zat tersebut dan otomatis virus pun akan mati dengan sendirinya. Air yang mengalir berfungsi untuk melarutkan virus mati tersebut. HAND SANITIZER boleh digunakan HANYA JIKA TIDAK ADA AIR YANG MENGALIR. Terlalu sering menggunakan hand sanitizer pun tidak terlalu baik karena dapat menimbulkan penyakit kulit. 
  2. Jaga jarak itu penting. Terlebih dengan orang yang batuk, bersin, maupun sakit. Jaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain. 
  3. Hindari menyentuh wajah, terutama mata, hidung, dan mulut. Karena mata, hidung, dan mulut sangat mudah untuk menularkan virus ke anggota tubuh lainnya. 
  4. Untuk masker, masker lebih diutamakan untuk pasien penderita atau terpapar virus SARS-CoV-2, bagi mereka yang sedang sakit (batuk, flu) dan tenaga medis. 
  5. Ikuti etika batuk atau bersin yang benar, yakni menutup hidung dan mulut menggunakan siku atau lengan atas, saputangan, atau tissue. 

 

Tidak perlu panik berlebihan dalam menghadapi virus SARS-CoV-2 ini, tapi tetap harus WASPADA dan HATI-HATI. Tetap jaga kebersihan, makan makanan bergizi, jauhi keramaian, dan lakukan physical distancing seperti anjuran pemerintah. Satu lagi, jangan lupa untuk CUCI TANGAN!

 

 

SOURCE:

https://www.who.int

news.detik.com

cnn.indonesia.com